Browser








Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 November 2013

Kepribadian anak

Masing-masing anak dilahirkan dengan kepribadian yang unik. Bagaimana cara orang tua memahami kepribadian ini agar bisa memaksimalkan potensi setiap anak?
Tiap anak lahir dengan kecenderungan bawaan untuk memiliki salah satu dari empat kepribadian dasar : sanguine, koleris, melankolis, phlegmatic. Memang ada anak yang memiliki kombinasi dua kepribadian dan kadang keduanya sama seimbang. Namun biasanya, salah satu kepribadian lebih dominant.

Empat kepribadian ini beserta kombinasinya menjadikan tiap anak unik meski kadang hal ini sulit dipahami orang tua. Lebih-lebih jika orang tua dan anak memiliki tipe kepribadian yang sangat berbeda.

Teori empat kepribadian ini diperkenalkan oleh Galen, seorang fisiologi Romawi yang hidup diabad ke 2 Masehi. Ia menyatakan bahwa kepribadian manusia bisa dibagi menjadi empat kelompok besar: Sanguin (populer), Koleris (kuat), Melankolis (sempurna), phlegmatis (damai).

Meski teori ini tergolong sangat kuno, para psikolog masa kini mengakui teori kepribadian ini banyak benarnya. Tak heran jika teori ini banyak dipakai untuk memotivasi hubungan antar manusia, dan keterampilan komunikasi. Lebih-lebih setelah teori ini dipopulerkan oleh Florence Littauer dalam buku seri Personality Plus.

Sanguin

Menurut teori ini, anak sanguine mempunyai energi yang besar, suka bersenang-senang dan supel. Mereka suka mencari perhatian, sorotan, kasih saying, dukungan dan penerimaan orang-orang disekelilingnya. Anak sanguine suka memulai pembicaraan dan menjadi sahabat bagi semua orang. Anak tipe ini biasanya optimis dan selalu menyenangkan. Namun ia tidak teratur emosional dan sangat sensitive terhadap apa yang dikatakan orang terhadap dirinya. Dalam pergaulan, anak sanguine sering dikenal sebagai “si tukang bicara”.


Koleris

Anak koleris suka berorientasi pada sasaran. Aktivitasnya dicurahkan untuk berprestasi, memimpin dan mengorganisasikan. Anak koleris menuntut loyalitas dan penghargaan dari sesame, berusaha mengendalikan dan mengharapkan pengakuan atas prestasinya, serta suka ditantang dan mau menerima tugas-tugas sulit.
Tapi mereka juga suka merasa benar sendiri, suka kecanduan jika melakukan sesuatu, keras kepala dan tidak peka terhadap perasaan orang lain. Anak seperti ini sering diidentifikasi sebagai “si pelaksana”


Melankolis

Pemilik kepribadian melankolis cnderung diam dan pemikir. Ia berusaha mengejar kesempurnaan dari apa yang menurutnya penting. Anak tipe ini butuh ruang dan kesenangan supaya mereka dapat berpikir dan melakukan sesuatu. Anak tipe ini berorientasi pada tugas, sangat berhati-hati, perfeksionis dan suka keteraturan. Karenanya anak tipe ini sering kecewa dan depresi jika apa yang diharapkannya tidak sempurna. Anak melankolis sering diidentifikasi sebagai “si perfeksionis” atau “si pemikir”.


Phlegmatis

Anak berkepribadian phlegmatic adalah anak yang seimbang, stabil, merasa diri sudah cukup dan tidak merasa perlu merubah dunia. Ia juga tak suka mempersoalkan hal-hal sepele, tidak suka resiko atau tantangan, dan butuh waktu untuk menghadapi perubahan. Si anak kurang disiplin dan motivasi sehingga suka menunda-nunda sesuatu. Kadang ia dipandang orang lain sebagai lamban. Bukan karena ia kurang cerdas, tapi justru karena ia lebih cerdas dari orang lain. Anak phlegmatic tak suka keramaian ataupun banyak bicara. Namun ia banyak akal dan bisa mengucapkan kata yang tepat disaat yang tepat, sehingga cocok menjadi negosiator. Ia kadang diidentifikasi sebagai “si pengamat” atau “si manis”.


Banyak yang tak paham

Menurut Rozamona, Psi., kepribadian anak ini bisa diamati orang tua sejak masih bayi meski belum terlalu jelas. “Cara mengetahuinya mudah kok,” papar psikolog di RSIA Hermina Depok, Jawa Barat, “Tinggal memantau anak saja”

Anak koleris, misalnya, tangisnya lebis keras. Jika minta susu atau sesuatu harus segera dipenuhi. Sedangkan anak sanguine sejak kecil sudah senang senyum dan menyapa orang lain. Sedangkan anak phlegmatic cenderung lebih tenang dan anak melankolis cenderung lebih sensitive.

Semua tipe kepribadian itu menurut Rozamona punya kelebihan dan kekurangan. Dan “Sayangnya banyak orang tua yang tidak paham kepribadian anaknya, “papar psikolog di Biro Konsultasi Mahasiswa STEKPI Jakarta ini. “Contohnya, tak jarang orang tua menganggap anak koleris sebagai anak hiperaktif dan nakal. Padahal mereka bukannya nakal, tetapi sifat kepribadian ini memang cenderung aktif. Orang tua yang tidak paham kepribadian ini langsung mencap negative si anak”.

Pada anak sanguine, segi positifnya, ia mudah bergaul, namun kelemahannya cenderung bingung jika tidak ada teman dan sembrono. Anak phlegmatic adalah tipe ilmuwan yang tekun, suka membaca. Namun sisi negatifnya, ia agak sulit bergaul dan tidak mengutamakan hubungan interpersonal.

Anak melankolis sifatnya cenderung introvert, aktivitasnya agak rendah dan emosinya labil. Tetapi jika mengerjakan sesuatu selalu ingin sempurna, jadi cenderung kecewa jika yang diharapkannya tak sampai.

Untuk mengarahkan bakat

Karena setiap anak mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, Rozamona menyarankan orang tua mesti paham betul karakter buah hatinya supaya bisa menangani dan memahami kondisi anak dengan baik. Sebab banyak manfaat yang didapat bila orang tua bisa memahami kepribadian anak. “Orang tua bisa memilih pendekatan yang sesuai untuk anak. Misalnya untuk pemilihan jenis kegiatan, kursus atau sekolah.

Karena bakat bisa dilihat dari kepribadian anak, memahami kepribadian anak juga untuk memudahkan orang tua bila ingin memasukkan anak kursus. Tujuannya agar tak salah pilih, membuat anak nyaman serta menyatu dengan bakatnya. Selain itu dengan mengetahui kepribadian tiap anak, orang tua lebih bisa berempati dan tak perlu marah jika anak terlihat malas suka membantah atau banyak bicara.

Kadang orang tua merasa tak nyaman dengan kepribadian anaknya sehingga ingin merubahnya menjadi kepribadian si orang tua sendiri. Orang tua koleris misalnya, tak akan sabar menghadapi anak yang phlegmatic karena sering dianggap “lelet” dean malas. Atau orang tua yang melankolis bisa stress menghadapi anaknya yang sanguine karena suka lupa dan bikin rumah berantakan.

Kepribadian memeng bisa dirubah sedikit demi sedikit setelah anak menjadi dewasa. Misalnya jika ia merasa terlalu emosional, ia bisa merubahnya sedikit demi sedikit sehingga bisa lebih sabar. Tetapi untuk anak-anak kepribadian cenderung menetap dan menurut Rozamona tak perlu dirubah. “Lebih baik menambahkan kepribadian yang tidak dimiliki anak sehingga mereka bisa tumbuh jadi anak yang menyenangkan. Misalnya anak yang suka bicara blak-blakan harus diajari sopan santun supaya mereka tahu bicara yang baik tanpa harus menyakiti lawan bicaranya.


Empat kombinasi kepribadian

Umumnya anak punya kombinasi dari kedua kepribadian. Kadang keduanya seimbang, namun umumnya salah satu lebih dominant dan yang lain dalam kabar lebih rendah.

Sanguine dan koleris bisa berkombinasi secara alami karena keduanya eksrovert, optimis dan terus terang. Kombinasi ini menghasilkan individu yang sangat enegik mereka punya daya tarik serta banyak bicara dalam menyelesaikan pekerjaan mereka, entah melakukan nya sendiri atau menyuruh orang lain untuk mengerjakannya.

Phlegmatic dan melankolis bisa berkombinasi karena keduanya introvert, pesimis dan lembut. Mereka melakukan sesuatu dengan sempurna dan tepat waktu, tidak mau mengambil sikap konfrontatif. Namun anak tipe ini akan mudah terkuras energinya jika berurusan dengan orang lain.

Kombinasi koleris-melankolis dan sanguine-phlegmatic menggabungkan optimis dan pesimis, yang suka hura-hura dengan yang tidak suka hura-hura, dan yang supel dengan yang suka menarik diri. Akibatnya anak cenderung tidak seimbang dan berubah-ubah kepribadiannya tergantung keadaan.

Kombinasi koleris-melankolis menghasilkan, individu yang sangat berorientasi pada tugas. Kombinasi ini akan menjadi peraih prestasi tertinggi, melakukan segala sesuatu dengancepat dan sesempurna mungkin namun merasa bisa menjadi ngebos dan manipulatif sekaligus mudah stress jika orang lain tak bisa melakukan segalanya dengan benar dan tepat waktu.

Kepribadian sanguine dan phlegmatic juga bisa berkombinasi, menghasilkan anak yang berorientasi pada hubungan. Kombinasi ini menjadikan anak jadi teman semua orang. Ia dikagumi karena sifat humornya, selalu rileks dan menerima orang lain apa adanya. Namun ia cenderung tidak disiplin, tidak suka melakukan apapun, mudah lupa tanggung jawabnya dan selalu dapat merayu orang lain untuk mengerjakannya bagi mereka.

Sumber : Ahmad Fauzi AL Hamkee, Saudi Arabia
{ Read More }


Jumat, 25 Oktober 2013

Samsung Galaxy Y HP Android Murah Untuk Anak Muda

Samsung S5360 Galaxy Y merupakan smartphone yang berorientasi pada anak muda dan menjanjikan pengalaman Android dengan harga terjangkau. Huruf Y pada nama model memang mengacu pada kata “Young”. Selain Samsung Galaxy Y ada juga Samsung Galaxy Y Pro yang memiliki target pasar sama yaitu anak muda tapi Galaxy Y Pro menyajikan bentuk keyboard QWERTY.



Meskipun Ponsel Galaxy Y ini memiliki spesifikasi yang standar, namun cukup memadai untuk menyajikan pengalaman OS Android terbaru dan cukup layak bagi anak muda yang belum memiliki ponsel Android.
Spesifikasi Samsung Galaxy Y S5360 : 
Jaringan: GSM 850/900/1800/1900 MHz, 3G dengan HSDPA
Dimensi: 104 x 58 x 11,5 mm, 97.5g
Tampilan: 3 inci 65K warna TFT LCD touchscreen kapasitif, 240 x 320 piksel
CPU: 832MHz prosesor ARMv6
Memory: RAM 256MB, penyimpanan 164MB, hot-swappable microSD slot kartu
OS: OS Android, v2.3.3 Gingerbread dengan TouchWiz UI
Kamera: kamera 2MP dengan geotagging, deteksi senyum; perekaman video QVGA @ 15fps
Konektivitas: Wi-Fi b / g / n, Bluetooth 2.1 dengan A2DP, port microUSB pengisian, penerima GPS dengan A-GPS, 3.5mm audio jack, FM radio
Baterai: 1200mAh
Misc: Built-in accelerometer, multi-touch input, sensor jarak, input teks Swype, Office document viewer
Harga Samsung Galaxy Y adalah Rp 1.2 juta di Indonesia
Topik Lainnya: samsung androidsmartphoneponselkomputerteknologi gadget,
blackberryiPhonelaptopkomputer tablet

{ Read More }


Kesalahan Dalam Mendidik Anak Balita


Anak Balita
Mendidik Anak Balita - Anak balita biasanya memang selalu bisa membuat kita gemas dan ingin sekali selalu memeluk, mencubit, mencium, dan bermain bersama mereka. Akan tetapi, di lain waktu terkadang anak balita juga bisa membuat kita jengkel dan bisa membuat kepala kita pusing karena tingkah laku mereka.

Anak balita bukanlah seperti mainan yang telah dibekali buku panduan untuk mengoperasikan mereka. Menjadi orang tua memang bisa dibilang susah-susah gampang dan memang menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, maka dari itu belajar menjadi orang tua tidak ada waktu batasan untuk berhenti.

Terkadang orang tua merasa paling benar dan paling bisa dalam mendidik anak balita. Akan tetapi mungkin cara mendidik tersebut bisa merupakan salah satu kesalahan dari mendidik anak balita. 

Berikut beberapa kesalahan dalam mendidik anak balita.
  1. Tidak konsisten
    Konsekuensi dari awal tentang apa yang akan mereka peroleh adalah merupakan sesuatu yang harus diajarkan kepada anak. Misalnya jika anak tidak tidur tepat waktu atau mandi maka konsekuensi apa yang akan mereka dapatkan. Semakin mereka konsisten bahwa hal apa yang akan mereka dapatkan jika peraturan tidak dipatuhi, maka anak semakin enak untuk diajak bekerja sama.

    Maka dari itu buatlah daftar rutinitas setiap hari dan musyawarah kan dengan pasangan tentang konsekuensi apa yang akan diberikan jika anak tidak menjalankan rutinitas tersebut.

    Jangan sampai antara orang tua berbeda pendapat tentang pesan sanksi yang diberikan kepada anak karena hal tersebut bisa menjadikan anak malah semakin membandel dan bisa-bisa akan mengadu domba kepada kedua orang tua.

    Dalam memberikan sanksi jangan melakukan kompromi kepada anak, Anda harus tegas tentang sanksi yang akan Anda berikan.
  2. Menghabiskan waktu untuk fokus terhadap waktu keluarga
    Menghabiskan waktu dan berkumpul bersama keluarga besar merupakan hal yang sangat baik dan justru sangat dianjurkan agar selalu menyambung silaturrahim. 

    Akan tetapi, Anda juga jangan sampai melewatkan waktu khusus bersama anak-anak Anda. Waktu pribadi ini bisa menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bagi sang anak dan juga tentu bagi Anda sebagai orang tua.

    Menghabiskan waktu pribadi tidak harus pergi ke tempat jauh, Anda bisa memanfaatkan mainan yang dimiliki anak dan bermain lah bersama mereka dan berperan lah sebagai teman bermain nya.
  3. Menawarkan bantuan kepada anak terlalu sering
    Ada sebagian orang tua yang selalu menganggap balita mereka adalah bayi yang belum bisa melakukan banyak aktivitas dan belum terlalu paham tentang banyak hal, sehingga para orang tua selalu menawarkan bantuan kepada anak untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. 

    Hal tersebut bisa menjadikan sang anak berpikir bahwa mereka tidak bisa melakukan apa-apa dan semuanya harus dibantu orang tua. Cobalah berpikir untuk tidak selalu membantu pekerjaan mereka, biarkan mereka melakukannya sendiri, tetapi Anda harus tetap memberikan motivasi dan dorongan kepada anak agar mereka tetap semangat untuk menyelesaikannya.
  4. Terlalu banyak bicara
    Anak balita adalah anak yang belum bisa berpikir logika layaknya orang dewasa. Maka dari itu para orang tua jangan terlalu banyak  menjelaskan tentang mengapa tidak boleh melakukan hal tersebut. Bersikap sedikit tegas kepada anak juga perlu  dilakukan atau bisa dengan cara memberikan waktu hingga hitungan 3 kali, jika tetap mengerjakan hal tersebut maka konsekuensi langsung dikerjakan.

    Contoh kejadian, anak sudah waktunya makan akan tetapi  anak tidak mau dan memilih makan kue. Kemudian orang tua menjelaskan bahwa ini sudah waktunya makan sambil mengambil kue sang anak. Anak pun merengek nangis dan merebut kue nya, lalu ditarik lagi oleh orang tua nya sambil menjelaskan , anak merampas nya lagi, dan berulang terus menerus dengan penjelasan-penjelasan tanpa tindakan yang tegas.
  5. Menyajikan makanan khusus yang disukai anak
    Kebiasaan memasak menu makanan yang khusus buat anak-anak ternyata tidak selamanya baik. Karena hal tersebut bisa menjadikan anak-anak susah untuk menikmati berbagai macam makanan dan hanya menikmati makanan yang  itu-itu saja. Padahal anak juga dituntut untuk kenal dan mengkonsumsi makanan yang bervariasi. 

    Jika anak memang sudah bisa untuk mengkonsumsi makanan yang berat seperti orang dewasa, maka ajaklah mereka untuk makan bareng di meja makan dan ikut menyantap makanan yang ada.

    Jika anak menolak jangan langsung marah-marah, ajari mereka pelan-pelan dengan terus menyodorkan makan yang bervariasi. Jangan sampai Anda menjadi koki hanya khusus membuat menu makanan yang berbeda yang mereka inginkan padahal mereka sudah bisa makan makanan orang dewasa.
  6. Terlalu dini memberikan latihan menggunakan toilet
    Terkadang ada sebagian orang tua yang memaksa anaknya untuk menggunakan toilet karena mereka menganggap sang anak sudah saatnya belajar, padahal bisa saja anak belum siap.

    Prosesnya memang tidak harus keburu-buru, semua butuh proses. Akan tetapi tetap beri mereka pelajaran tentang toilet bagaimana cara memakainya dan apa fungsinya. Ketika sang anak sudah mau mencoba menggunakan toilet jangan lupa beri pujian kepada mereka
  7. Tidak membatasi waktu nonton TV
    Mungkin ada sebagian orang tua memberikan anak tontonan-tontonan televisi bisa membuat mereka lebih tenang untuk melakukan aktivitas. Karena si anak akan tenang dan tidak rewel dan akibatnya anak bisa menghabiskan berjam-jam di depan TV dan sulit untuk belajar.

    Cobalah alihkan anak untuk melakukan kegiatan lain seperti membaca buku bersama atau bermain dengan mainan yang kreatif. Atau bisa ajak si anak untuk ngobrol sehingga mereka bisa belajar komunikasi. 
  8. Mencoba menghentikan ketika anak merengek besar
    Sebagai orang tua tentu mereka khawatir mendapat cap dari orang lain sebagai orang tua yang tidak kompeten ketika anak kita menangis merengek besar di tempat umum. Jangan pedulikan apa yang dikatakan orang lain, yang perlu dipikirkan adalah apa yang sebenarnya terjadi pada anak sehingga mereka menangis merengek  besar. 

    Ketika hal tersebut terjadi pada Anda, maka cobalah ajak si anak pergi ke tempat yang sepi supaya mereka berhenti dan bisa mengeluarkan emosi nya. Kemudian setelah anak selesai jangan lupa untuk memberikan pelukan kepada anak agar anak menjadi tenang dan Anda bisa menjalankan kegiatan Anda kembali.
Demikianlah beberapa kesalahan dalam mendidik anak balita. Semoga kita selalu belajar dan mendapat pelajaran yang bagus tentang mendidik anak sehingga anak bisa menjadi anak yang baik dan menjadi kebanggaan keluarga dan lingkungan sekitar. Semoga bermanfaat!

{ Read More }


IconIconIconFollow Me on Pinterest